Tampilkan postingan dengan label Akuntansi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akuntansi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Januari 2016

CONTOH LATIHAN SOAL DAN PEMBAHASAN AKUNTANSI PERUSAHAAN DAGANG

Cr :vinabkkpmu.wordpress.com

Proses pencatatan transaksi keuangan ke Jurnal Umum pada perusahaan dagang sama dengan proses pencatatan transaksi keuangan pada perusahaan jasa yaitu diawalai dengan analisis transaksi untuk menentukan akun apa saja yang terpengaruh dan harus dicatat di sisi debet dan kredit. Pencatatan transaksi keuangan ke dalam jurnal umum juga harus sistematis dan kronologis.
Contoh :
Berikut ini transaksi yang dilakukan oleh PD “Amanah” selama bulan april 2006.
April :        1.        Dijual barang dagangan kepada CV “Aini” seharga Rp. 5.000.000,00 secara tunai.
  1. Dibeli barang dagangan dari toko “Sekawan” seharga Rp. 3.000.000,00
  2. Dibayar sewa gedung untuk 5 bulan Rp. 1.000.000,00
  3. Dibeli barang dagangan dari CV Mutiara seharga Rp. 10.000.000,00 faktur no 010 dengan syarat 2/10, n/30
  4. Dikembalikan sebagian barang dagangan kepada CV Mutiara karena rusak Rp. 2.000.000,00
  5. Dibayar beban angkut barang kepada PT “Rama” sebesar Rp. 600.000,00
  6. Dibayar dengan cek no. 511 kepada CV Mutiara sebagai pelunasan faktur no. 010.
  7. Dijual  barang dagangan kepada toko “Subur” dengan faktur no. 015 seharga Rp. 3.500.000,00 dengan syarat 2/15, n/30.
17. Diterima nota debet dari toko “Subur” untuk pengembalian barang seharga Rp. 500.000,00.
20. Dibeli perlengkapan kantor dari toko “Syakita” Rp. 550.000,00
  1. Diterima kiriman uang dari toko “Subur” untuk pelunasan faktur no. 015.
Dari transaksi di atas akan dibuat pencatatan ke dalam Jurnal Umum sebagai berikut :
Tanggal
Akun dan Keterangan
Ref
Debet (Rp)
Kredit (Rp)
2006,April 1 KasPenjualan (Penjualan tunai kepada CV “Aini)
5.000.000
5.000.000

2 PembelianKas (pembelian tunai kpd CV “Sekawan”)
3.000.000
3.000.000

4 Sewa dibayar di mukaKas (dibayar sewa untuk 5 bulan)
1.000.000
1.000.000

5 PembelianUtang gagang (pembelian kredit dari CV “Mutiara”)
10.000.000
10.000.000

7 Utang dagangRetur pembelian dan PH (pengembalian sebagain barang dagangan yang dibeli karena rusak)
2.000.000
2.000.000

8 Beban angkutKas (pembayaran beban angkut kepada PT “Rama”)
600.000
600.000

10 Utang dagangKas Potongan pembelian
(Pembayaran pembelian kredit dengan potongan)

8.000.000
7.840.000
160.000

15 Piutang dagangPenjualan (Penjualan kredit kepada Toko Subur ,faktur no.015,syarat 2/15,n/30)
3.500.000
3.500.000

17 Retur penjualan dan PHPiutang dagang (Pengembalian barang dan PH)
500.000
500.000
Tanggal
Akun dan Keterangan
Ref
Debet (Rp)
Kredit (Rp)

20 SaldoPerlengkapan kantor Kas
(Pembelian perlengkapan tunai)

34.150.000
550.000
34.150.000
550.000

25 KasPotongan penjualan Piutang dagang
(penerimaan pembayaran piutang dari toko “Subur”)

2.940.000
60.000
3.000.000




37.150.000
37.150.000

Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang

Siklus Akuntansi dalam Perusahaan Dagang


Siklus akuntansi perusahaan merupakan suatu proses membuat laporan keuangan perusahaan dalam suatu periode tertentu. Biasanya siklus akuntansi berawal dari transaksi hingga pada pembuatan laporan keuangan perusahaan yang kemudian dilanjutkan dengan adanya saldo yang dtutup dengan closing entry (jurnal penutup) atau sampaii pada jurnal pembalik. sebelumnya sudah saya bahas artikel tentang tahapan Siklus Akuntansi

Pada artikel ini akan kita membahas tentang siklus akuntansi perusahaan dagang. Perusahaan dagang merupakan perusahaan yang kegiatan utama bisnisnya adalah membeli barang dari supplier atau pemasok lalu menjual kemlagi ke konsumen dengan tanpa mengubah wujud barang dagangnya. Misalnya toko kelontong, supermarket, minimarket dan yang lainnya. Jenis usaha tersebut baik toko kelontong sederhana dan minimarket modern membeli stok barang kebutuhan sehari hari dari suplier dan kemudian menjual lagi ke konsumen.

Pada dasarnya, siklus akuntansi pada perusahaan dagang tidak jauh berbeda dengan siklus akuntansi pada perusahaan jasa. Baik perusahaan dagang ataupun perusahaan jasa, seluruh transaksi yang dilakukan harus dicatat kedalam jurnal lalu kemudian secara periodik dibukukan atau dikelompokkan kedalam rekening akun di buku besar. dan pada akhir periode akuntansi, seluruh saldo dari semua rekening akun dihitung serta dicantumkan kedalam neraca lajur yang digunakan sebagai alat bantu dalam penyusunan laporan keuangan. Jurnal penyesuaian dan jurnal penutup juga dilakukan dalam perusahaan dagang, begitupun dengan pembuatan neraca saldo setelah tutup buku perlu dilaksanakan sebagai tahap terakhir dalam siklus akuntansi.

Ssiklus Akuntansi


siklus akuntansi perusahaan dagang
Siklus akuntansi perusahaan dagang
Gambar yang terlihat di atas menerangkan siklus akuntansi secara umum, namun siklus akuntansi untuk perusahaan dagang tak jauh berbeda dari siklus akuntansi pada umumnya seperti gambar di atas. Siklus akuntansi diawali dari transaksi yang diidentifikasi, apa saja akun yang terlibat atas transaksi yang terjadi. Misalnya, dalam perusahaan dagang, dalam transaksi penjualan barang dagang, sebagai penjual kita telah menyerahkan barang dagang serte sudah memperoleh uang atas pembayaran dari pembeli. maka transaksi seperti ini bisa kita identifikasikan sebagai transaksi penjualan secara tunai. kemudian kita jurnal transaksi tersebut seperti ini:

Debit | Kas

Rp xxxx
Kredit |
Penjualan

Rp xxxx


Tahap Berikutnya adalah memposting ke buku besar, yaitu suatu proses pemindahan rekening akun yang telah kita jurnal ke masing masing buku besar.
Lalu tahap selanjutnya menyusun neraca saldo yang berisikan daftar akun akun yang dipergunakan beserta nilai nominal saldonya, yang berfungsi untuk membuktikan bahwa sisi debit dan sisi kredit sudah seimbang (balance). 
Jurnal penyesuaian dikerjakan jika ditemukan adanya kesalahan dalam pencatatan / penjurnalan dan posting atau dimaksudkan untuk memastikan pendapatan dan beban benar benar sudah dicatat dalam periode yang benar.
Tahap selanjutnya adalah gabungan dari neraca saldo serta jurnal penyesuaian yang secara umum disebut neraca saldo setelah penyesuaian (adjusted trial balance).

Setelah adjusted trial balance tersusun, tahap berikutnya adalah menyiapkan laporan keuangan.

Laporan keuangan perusahaan adalah hasil akhir dari suatu proses akuntansi yang merupakan suatu ringkasan catatan atas transaksi keuangan. Penyajian laporan keuangan dimaksudkan untuk memberi informasi tentang posisi harta, utang, serta modal perusahaan. Biasanya laporan keuangan perusahaan meliputi:
  • Laporan Laba atau Rugi 
  • Laporan Perubahan Ekuitas 
  • Neraca. 
Dalam tahapan ini, semua akun yang ada didalam neraca saldo setelah penyesuaian dipindahkan kedalam laporan keuangan menyesuaikan dengan jenis laporan keuangannya.

Semisal untuk neraca, semua akun yang berkaitan dengan neraca ialah akun kelompok harta, kewajiban (utang) dan ekuitas (modal).

Sedangkan pada laporan laba rugi berisikan rekening akun pendapatan dan beban.

Tahapan selanjutnya adalah menyusun jurnal penutup atas akun yang terdapat pada laporan laba/rugi, yaitu akun pendapatan dan beban.

Berlanjut ke tahapan berikutnya yaitu neraca saldo setelah penutupan, tak berbeda seperti dalam tahapan neraca saldo setelah penyesuaian sebelumnya yaitu dengan menggabungkan neraca saldo dengan jurnal penutup. Dalam tahap ini akan terlihat dalam laporan laba atau rugi bersaldo 0 (nol).

Kemudian jurnal pembalik, tahap ini bersifat optional saja dan tidak harus dilakukan. jurnal pembalik hanya diperuntukan untuk transaksi tertentu saja. Semisal untuk transaksi pendapatan yang diterima dimuka, ketika penjurnalan langsung dicatat/dijurnal sebagai pendapatan ataupun biaya yang dibayar dimuka diakui sebagai biaya maka seperti ini perlu untuk dibuat jurnal pembalik.

CukuP demikian penjelasan singkat tentang siklus akuntansi untuk perusahaan dagang, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda.

Metode Penyusutan Aktiva Tetap Akuntansi

Penyusutan adalah salah satu konsekuensi akibat dari penggunaan aktiva tetap. Di mana aktiva tetap akan cenderung mengalami penurunan fungsi. Pengertian penyusutan menurut penalaran umum adalah cadangan yang akan diperuntukan untuk membeli aktiva baru guna menggantikan aktiva lama yang tidak produktif. Sedangkan pengertian menurut akuntansi, penyusutan adalah pengalokasian harga perolehan aktiva tetap ke dalam harga pokok produksi, atau biaya operasional yang disebabkan penggunaan aktiva tetap tersebut.

Aktiva tetap akan mengalami penyusutan dari suatu periode ke periode berikutnya, jadi nilai kegunaan dari aktiva tetap akan terus berkurang dari suatu periode ke periode berikutnya, kecuali tanah. Misalnya adalah mesin yang dibeli untuk ektivitas operasi perusahaan seharga 12.000.000 dan setelah 6 tahun ke depan nilai dari mesin tersebut mengalami penyusutan menjadi Rp. 7.000.000.

Dalam suatu periode tertentu apabila sudah digunakan atau dimanfaatkan maka nilai aktiva tetap akan mengalami penurunan. Aktiva tetap yang nilainya tidak akan berkurang, bahkan nilainya cenderung bertambah atau semakin tinggi adalah tanah. Seiring dengan bertambahnya waktu, nilai dari sebidang tanah akan mengalami penambahan atau semakin tinggi.

Penyusutan aktiva tetap terjadi karena berkurangnya nilai kegunaan dari aktiva tetap yang disebabkan karena adanya pemakaian aktiva tetap tersebut. Penyusutan dikenal juga dengan istilah depresiasi yaitu pengalokasian aktiva tetap yang disebabkan adanya penurunan nilai dari aktiva tetap tersebut. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengetahui besarnya penyusutan atau depresiasi, diantaranya metode metode garis lurus, metode jumlah angka tahun, metode menurun berganda, metode satuan jam kerja dan metode satuan hasil produksi.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai metode penyusutan aktiva tetap, sebaiknya Anda pahami dulu beberapa istilah berikut ini:

1. Harga perolehan (harga barang + biaya-biaya yang menyertainya)

2. Harga buku aktiva tetap (harga perolehan – akumulasi penyusutan aktiva tetap)

3. Nilai residu disebut juga dengan nilai sisa yaitu perkiraan nilai aktiva tetap setelah dipakai sesuai umur ekonomisnya.

4. Umur ekonomis adalah batas waktu penggunaan barang atau perkiraan usia barang.

Beberapa istilah di atas akan mempermudah dalam memahami metode penyusunan aktiva tetap. Berikut penjelasan dan pembahasan beeberapa jenis metode penyusutan aktiva tetap:

Metode Penyusutan Aktiva Tetap Garis Lurus

Istilah lain dari metode garis lurus adalah straigt line method, di dalam metode ini beban penyusutan aktiva tetap pertahunnya akan sama sampai akhir umur ekonomis aktiva tetap tersebut.

Rumusnya:

Penyusutan =   Harga perolehan - nilai residu 
                            -----------------------------------
                                     umur ekonomis

Dapat juga dicari dengan cara lain:

- Menghitung tarif penyusutan tiap tahun
  
 Tarif penyusutan =           100 %
                                            -----------------
                                            umur ekonomis

- Menghitung beban penyusutan tiap tahun
  Beban penyusutan = tarif penyusutan x (harga perolehan – nilai residu)

- Menghitung nilai buku aktiva tetap

   Harga buku aktiva tetap = harga perolehan – akumulasi penyusutan
Metode Penyusutan Aktiva Tetap Menurun Ganda

Istilah lain dari metode ini adalah Double Declining Balance Methode. Di dalam metode ini, penyusutan aktiva tetap dapat ditentukan melalui persentase tertentu yang dicari dari
harga buku pada tahun bersangkutan. Untuk menghitung persentase penyusutan dapat diperoleh dengan mengalikan persentase penyusutan yang diperoleh dengan metode garis lurus dikalikan angka 2. Jadi besarnya persentase penyusutan 2 kali dari persentase atau tarif penyusutan metode garis lurus.

Rumus:

Penyusutan = [2 x (100% : umur ekonomis)] x harga buku aktiva tetap.

Metode Penyusutan Aktiva Tetap Jumlah Angka Tahun

Istilah dari metode ini adalah sum of the years digit method, besarnya penyusutan aktiva tetap berdasarkan metode jumlah angka tahun mengalami penurunan jumlah tiap tahunnya.

Rumus:

Penyusutan=     sisa umur penggunaan
                            ---------------------------- x (harga perolehan - nilai residu)
                                jumlah angka tahun

Keterangannya:

- Sisa umur penggunaan diperoleh = semisal umur ekonomisnya adalah 5 tahun, maka untuk tahun pertama sisa umur penggunaan berjumlah 5 (lima), sedangkan tahun kedua berjumlah 4 (empat), dan begitu seterusnya.

- Jumlah angka tahun diperoleh = semisal umur ekonomisnya adalah 5 tahun, maka perhitungan jumlah angka tahunnya 1+2+3+4+5=15

- Harga buku aktiva = harga perolehan dikurangi nilai residu

Metode Penyusutan Aktiva Tetap Satuan Jam Kerja

Istilah lainnya adalah Service Hours Method, penetapan beban penyusutan aktiva tetap dalam metode ini di dasarkan pada jam kerja yang bisa dicapai dalam periode yang bersangkutan.

Rumus:

- Beban penyusutan per tahun = jam kerja yang dapat dicapai x tarif penyusutan tiap jam

- Tarif penyusutan per jam = (harga perolehan - nilai residu) / jumlah total jam kerja penggunaan aktiva

Metode Penyusutan Aktiva Tetap Satuan Hasil Produksi

Istilah lainnya adalah Productive Output Method. Di dalam metode ini penetapan beban penyusutan aktiva tetap didasarkan pada jumlah satuan produk yang dihasilkan pada periode yang bersangkutan.

Rumus:

- Beban penyusutan per tahun= jumlah satuan produk yang dihasilkan x tarif penyusutan per produk

- Tarif penyusutan per satuan produk = (harga perolehan – nilai residu) / jumlah total produk yang dihasilkan.

Dapat disimpulkan bahwa:

Penyusutan adalah proses pengurangan nilai aktiva tetap yang disebabkan oleh beberapa faktor sebagai akibat penggunaan aktiva tetap tersebut. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhinya adalah faktor usia. Beberapa metode yang digunakan untuk menghitung besarnya beban penyusutan adalah metode garis lurus, metode menurun ganda, metode jumlah angka tahun, metode satuan jam kerja, dan metode satuan hasil produksi.

Setelah perhitungan selesai dilakukan, langkah berikutnya adalah mencatat beban penyusutan aktiva tetap. Proses pencatatan ini akan dilakukan di akhir periode akuntansi dengan dilengkapi bukti transaksi berupa memo yang di dalamnya memuat adanya ayat jurnal penyesuaian yang menjelaskan adanya penyusutan jumlah saldo periode tersebut.
Pencatatan dalam jurnal penyesuaian:

- Beban penyusutan aktiva tetap  xxxx (debet)
            - Akumulasi penyusutan aktiva tetap  xxxx (kredit)

Atau

- Beban penyusutan aktiva tetap  xxxx (debet)
            - Aktiva tetap yang bersangkutan  xxxx (kredit)

Catatan:

Apapun metode dan jenis aktiva yang digunakan, yang paling penting adalah:

1. Terapkanlah dengan konsisten apapun metode yang digunakan.

2. Apabila perusahaan menganggap perlu adanya perubahan atas metode penyusutan yang dipakai, ada baiknya mencantumkan di dalam penjelasan mengenai sistem akuntansi yang dipakai dalam laporan keuangan dan disertai dengan alasannya.

Minggu, 21 Desember 2014

AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN MANUFAKTUR#1

Karakteristik Perusahaan Manufaktur
Perusahaan manufaktur (manufacturing firm) adalah perusahaan yang kegiatannya mengolah bahan baku menjadi barang jadi kemudian menjual barang jadi tersebut. Kegiatan khusus dalam perusahaan manufaktur adalah pengolahan bahan baku menjadi barang jadi. Kegiatan ini sering disebut proses produksi. Kegiatan produksi, apabila digambarkan akan nampak seperti di bawah ini:

Bidang akuntansi yang menangani masalah produksi disebut akuntansi biaya (cost accounting). Tujuannya, menetapkan beban pokok produksi barang jadi. Bab ini akan membahas sesuai ruang lingkup yang telah disebutkan, yakni penetapan beban pokok produksi. Titik berat pembahasan masih diletakkan pada pengenalan terhadap proses akuntansi dan laporan khusus untuk perusahaan manufaktur.
Masalah Khusus Perusahaan Manufaktur
Dibandingkan dengan perusahaan dagang, masalah khusus dalam akuntansi perusahaan manufaktur adalah persediaan, biaya pabrikasi (manufacturing costs), biaya produksi dan beban pokok produksi.
Persediaan (Inventory)
Berdasarkan perusahaan dagang, dalam perusahaan manufaktur biasanya terdiri dari tiga macam, yakni:
1. Persediaan bahan baku (raw materials inventory)
2. Persediaan barang dalam proses (work in process inventory)
3. Persediaan barang jadi (finished goods inventory)
Persediaan bahan baku melaporkan harga pokok bahan baku yang ada pada tanggal neraca. Bahan baku adalah barang-barang yang digunakan dalam proses produksi. Persediaan dalam proses terdiri dari biaya bahan baku dan biaya-biaya manufaktur lain yang telah terjadi untuk memproduksi barang yang belum selesai. Untuk menyelesaikannya masih diperlukan tambahan biaya. Persediaan barang jadi terdiri dari total biaya pabrik untuk barang-barang yang telah selesai diproduksi, tetapi belum dijual. Sebuah perusahaan manufaktur dengan demikian harus menyediakan tiga perkiraan untuk persediaan.
Biaya Manufaktur (Manufacturing Cost)
Biaya-biaya yang terjadi dalam perusahaan manufaktur selama suatu periode disebut biaya manufaktur (manufacturing cost), atau lebih dikenal dengan biaya pabrik. Biaya ini digunakan untuk menyelesaikan barang yang masih sebagian selesai di awal periode, barang-barang yang dimasukkan dalam proses produksi periode itu dan barang-barang yang baru dapat diselesaikan sebagian di akhir periode. Pada dasarnya biaya pabrik dapat dikelompokkan menjadi:
a. Biaya bahan baku (raw materials cost) yaitu biaya untuk bahan-bahan yang dapat dengan mudah dan langsung diidentifikasikan dengan barang jadi. Contoh bahan baku adalah kayu bagi perusahaan mebel atau tembakau bagi perusahaan rokok.
b. Biaya tenaga kerja lansung (direct labor cost) adalah biaya untuk tenga kerja yang menangani secara langsung proses produksi atau yang dapat diidentifikasikan langsung dengan barang jadi. Contoh buruh langsung adalah tukang kayu dalam perusahaan mebel atau pelinting rokok dalam perusahaan rokok (Sigaret Kretek Tangan = SKT).
c. Biaya overhead pabrik (overhead cost) adalah biaya-biaya pabrik selain bahan baku dan tenga kerja langsung. Biaya ini tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan barang yang dihasilkan.
Contoh biaya overhead pabrik adalah:
(1) bahan pembantu (kadangkadang disebut: bahan tidak langsung (indirect materials) misalnya perlengkapan pabrik (mur, baut dan pelitur dalam perusahaan mebel);
(2) tenga kerja tidak langsung (indirect labor) yaitu tenaga kerja yang pekerjaannya tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan barang yang dihasilkan, misalnya gaji mandor;
(3) pemeliharaan dan perbaikan (maintenance and repair);
(4) listrik, air telepon dan lainlain.
Ketiga jenis biaya manufaktur ini dapat dihubungkan dan dilihat keterkaitannya dengan memperhatikan bagan yang diilustrasikan di bawah ini.
Description: http://www.crayonpedia.org/wiki/images/8/89/Purno219.jpg
Biaya Produksi (Production Cost) dan Biaya Periode (Period Cost)
Biaya produksi (production cost) adalah biaya yang dibebankan dalam proses produksi selama suatu periode. Biaya ini terdiri dari persediaan barang dalam proses awal ditambah biaya pabrikasi (manufacturing cost), kemudian dikurangi dengan persediaan barang dalam proses akhir. Biaya pabrikasi adalah semua biaya yang berhubungan dengan proses produksi. Tiga komponen biaya yang terdapat dalam biaya produksi adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead. Biaya overhead adalah semua biaya pabrikasi (semua biaya yang terkait dengan proses produksi) yang bersifat tidak langsung, termasuk biaya-biaya yang dibebankan pada persediaan dalam proses pada akhir periode. Biaya overhead ini  seringkali tidak dapat diatribusikan/dilekatkan pada masing-masing unit produk yang dikerjakan secara spesifik. Karena biaya ini biasanya dinikmati bersama selama proses produksi berlangsung. Dalam situasi tertentu dapat pula disebut sebagai biaya bersama (common cost). Biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung sering pula disebut sebagai biaya utama (prime cost), yaitu biaya yang merupakan komponen utama dari produk yang dibuat dan dapat dengan mudah diatribusikan pada masing-masing unit produk yang dikerjakan atau dibuat. Biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead sering pula disebut sebagai biaya konversi (conversion cost), yaitu biaya yang dikeluarkan atau terjadi sehingga bahan baku dapat diubah menjadi produk jadi.
Kelompok biaya lain selain biaya produksi adalah biaya periode (period cost), yaitu biaya nonpabrikasi yang dikeluarkan atau terjadi selama periode berjalan dalam rangka operasional perusahaan. Biaya ini dapat dibagi menjadi dua kelompok, yakni beban penjualan atau pemasaran dan beban-beban administratif. Klasifikasi biaya yang berbeda-beda ini dilakukan agar dapat mengukur kinerja atau prestasi masing-masing bagian secara lebih fair. Kata lainnya adalah, alokasi yang tepat akan dapat meningkatkan pertanggungjawaban masingmasing bagian. Sehingga sebuah beban, bisa jadi teralokasikan ke dalam pos-pos yang berbeda walaupun jenisnya sama. Beban depresiasi komputer, misalnya, bisa jadi merupakan kelompok biaya overhead, jika komputer tersebut berada di atau dipergunakan untuk kegiatan oleh departemen produksi. Mungkin juga merupakan beban pemasaran/penjualan jika komputer tersebut dimanfaatkan oleh bagian tersebut. Atau boleh jadi pula beban depresiasi komputer tersebut merupakan kelompok beban adminstratif jika komputernya digunakan oleh bagian kantor atau administrasi. Oleh karena itulah kita harus dapat mengklasifikasikan setiap beban ke dalam kelompok biaya yang tepat karena berdasarkan laporan tersebut kinerja suatu bagian/seseorang akan diukur. 
Beban pokok produksi (Cost of Goods Manufactured)
Biaya barang yang telah diselesaikan selama suatu periode disebut beban pokok produksi barang selesai (cost of goods manufactured) atau disingkat dengan beban pokok produksi. Harga pokok ini terdiri dari biaya pabrik ditambah persediaan dalam proses awal periode dikurangi persediaan dalam proses akhir periode. Beban pokok produksi selama suatu periode dilaporkan dalam laporan harga produksi (cost of goods manufactured statement). Laporan ini merupakan bagian dari beban pokok penjualan (cost of goods sold).
Akuntansi Perusahaan Manufaktur
Seperti telah dijelaskan, siklus akuntansi meliputi tahap pencatatan dan tahap pengikhtisaran yang terdiri dari:
Tahap pencatatan
1. Pembuatan atau penerimaan bukti transaksi
2. Pencatatan dalam jurnal
3. Pemindahanbukuan ( posting ) ke buku besar
Tahap pengikhtisaran
4. Pembuatan neraca saldo
5. Pembuatan neraca lajur dan jurnal penyelesaian
6. Penyusunan laporan keuangan
7. Pembuatan jurnal penutup
8. Pembuatan neraca saldo penutup
9. Pembuatan jurnal balik
Bab ini tidak akan membahas tahap demi tahap siklus tersebut.
Pembahasan perusahaan manufaktur di sini lebih pada menguraikan tahap-tahap tersebut secara garis besar saja. Penekanan diberikan pada proses akuntansi untuk masing-masing akun/rekening/perkiraan perusahaan manufaktur (ketiga istilah ini dipakai seluruhnya, secara bergantian, sepanjang pembahasan dalam buku ini untuk menunjukkan bahwa ketiganya merupakan istilah yang lazim dipakai sehari-hari dalam praktik pada DU/DI). Namun demikian, tetap diharapkan bahwa pemaparan berikut ini telah mencakup semua pemahaman minimal yang diperlukan untuk dapat menjalankan proses akuntansi pada sebuah perusahaan manufaktur.
Bahan Baku (Raw Materials)
Pembelian bahan baku, seperti halnya perusahaan dagang, dicatat dalam buku pembelian (untuk pembelian kredit) dan buku pengeluaran kas (untuk pembelian tunai). Pembayaran hutang yang bersangkutan dicatat dalam buku pengeluaran kas. Di buku besar, pembelian bahan baku dicatat dalam rekening pembelian dan rekening-rekening lain yang berhubungan, misalnya potongan pembelian serta pembelian retur dan pengurangan harga. Pengeluaran bahan baku dari gudang untuk produksi tidak dicatat.
Jadi, seperti dalam perusahaan dagang, perkiraan persediaan bahan baku hanya digunakan untuk menampung ayat jurnal penyesuaian pada akhir periode. Jurnal penyesuaian dibuat untuk nilai persediaan yang ada di awal dan akhir periode. Sementara itu, nilai persediaan ditentukan dengan mengadakan penghitungan fisik. Jurnal penyesuaian untuk persediaan (awal dan akhir) dilakukan terhadap rekening Ikhtisar Beban pokok produksi.
Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor)
Pembayaran gaji kepada tenaga kerja langsung dicatat dalam buku pengeluaran kas. Dalam buku perlu disediakan perkiraan tersendiri untuk biaya buruh langsung. Pada akhir periode dibuatkan jurnal penyesuaian untuk upah yang masih belum saatnya dibayar. Pembebanan biaya buruh langsung dilakukan dengan mambuat jurnal penutup ke rekening Ikhtisar Beban pokok produksi.
Biaya Overhead Pabrik (Overhead)
Biaya ini terdiri dari berbagai jenis, misalnya: bahan pembantu, tenga keja tidak langsung, gaji, listrik, telepon, perlengkapan pabrik, pemeliharaan dan perbaikan, asuransi, penyusutan bangunan pabrik, penyusutan mesin-mesin pabrik, penyusutan kendaraan pabrik, penyusutan peralatan pabrik dan lain-lain. Untuk tiap-tiap jenis biaya dapat dibuatkan rekening tersendiri di buku besar. Atau, kalau ingin lebih sederhana, dalam buku besar hanya disediakan satu rekening saja yaitu biaya overhead pabrik sebagai rekening induk (sesungguhnya). Rincian biaya overhead pabrik ke dalam tiap-tiap jenis biaya dicatat dalam buku tambahan. Pembelian biaya overhead pabrik, misalnya pembelian bahan pembantu, dicatat dalam buku pembelian. Pembayarannya, dicatat dalam buku pengeluaran kas. Pembebanan biaya overhead pabrik ke dalam produksi dilakukan dengan membuat jurnal penutup atas rekening yang bersangkutan. Rekening lawanya adalah Ikhtisar Beban pokok produksi.
Persediaan dalam Proses ( Work in Process Inventory )
Proses produksi adalah kegiatan yang berlangsung terus menerus. Sementara itu, akuntansi harus melaporkan informasi keuangan secara berkala. Akibatnya, pada saat laporan keuangan harus dibuat, terdapat kemungkinan adanya sebagian barang yang belum selesai diproses. Walaupun demikian, biaya yang telah terjadi untuk barang itu, tetap harus dilaporkan. Inilah yang dicantumkan sebagai persediaan dalam proses. Untuk memperoleh beban pokok produksi barang yang telah selesai, biaya pabrik ditambah dengan nilai persediaan dalam proses di awal periode dan dikurangi dengan nilai persediaan dalam proses di akhir periode.
Pesediaan dalam proses, baik di awal maupun akhir periode diperoleh dengan jalan melakukan penghitungan phisik. Untuk sementara, jangan diperhatikan dahulu bagaimana menghitung nilai persediaan dalam proses. Yang perlu diketahui adalah bahwa nila ini terdiri dari biaya bahan baku, buruh langsung dan biaya pabrikase yang telah terjadi sampai dengan saat dilaporkan. Untuk mencatat nilai persediaan dalam proses, dibuatkan rekening yang diberi nama: “Persediaan dalam Proses”. Pada akhir periode dibuat jurnal penyesuaian untuk menghilangkan persediaan dalam proses awal dan membebankannya ke proses produksi. Sementara itu, jurnal penyesuaian lain untuk menimbulkan persediaan dalam proses yang ada pada akhir periode. Rekening lawan yang digunakan dalam jurnal penyesuaian tersebut adalah Ikhtisar Beban pokok produksi.
Di bawah ini (pada halaman berikut) diberikan ilustrasi tentang alur pembebanan biaya ke dalam proses produksi hingga pengakuan beban pokok penjualan. Alur ini digambarkan dalam bentuk hubungan di antara buku besar perkiraan-perkiraan yang terkait dengan proses produksi dalam sebuah perusahaan manufaktur. Kita dapat melihat di situ, apa saja perkiraan yang terkait dan harus dibuatkan jurnalnya selama proses produksi berlangsung, dan kapan masing-masing perkiraan tersebut harus didebitkan atau dikreditkan. Tentu saja, ilustrasi tersebut menggambarkan pencatatan yang harus dibuat ketika perusahaan menerapkan metode perpetual untuk persediaannya.
AKUNTANSI
UNTUK PERUSAHAAN PENGOLAHAN / MANUFAKTUR#2
 
 Perusahaan pengolahan / manufaktur: perusahaan yang mengolah bahan mentah (bahan baku) menjadi barang jadi.
 Klasifikasi persediaan pada perusahaan pengolahan :
Persediaan Bahan Baku
Persediaan Barang Dalam Proses
Persediaan Barang Jadi
Laporan Keuangan
Laporan Keuangan perusahaan manufaktur hampir sama dengan laporan keuangan perusahaan dagang. Perbedaannya terletak pada bagian Aktiva Lancar di Neraca dan Harga Pokok Penjualan di Laporan Rugi-Laba.
Neraca
Perbandingan Neraca Perusahaan Dagang dan Perusahaan Manufaktur:
Perusahaan Dagang
Neraca sebagian
31 Desember 2010

Perusahaan Manufaktur
Neraca sebagian
31 Desember 2010
Aktiva Lancar:


Aktiva Lancar:


Kas
Rp    1.000

Kas

Rp   1.200
Piutang (bersih)
     13.000

Piutang (bersih)

4.000
Persediaan Barang Dagangan
9.000

Persediaan:


Sewa Dibayar di Muka
   2.900

Barang Jadi
Rp 15.000


25.900

Barang Dalam Proses
18.000




Bahan Baku
9.000






42.000



Sewa Dibayar di Muka

1.600





48.800
Laporan Rugi-Laba
Perbandingan bagian Harga Pokok Penjualan di Laporan Rugi-Laba antara Perusahaan Dagang dan Perusahaan Manufaktur:
Perusahaan Dagang
Laporan Rugi-Laba sebagian
Periode Tahun 2010
Harga Pokok Penjualan:

Persediaan Barang Dagangan 1 Januari …………
Rp    10.000
(+) Pembelian Bersih …………………..……………
99.250
Barang Tersedia Untuk Dijual ………………………
Rp  109.250
(-) Persediaan Barang Dagangan 31 Desember …
9.000
Harga Pokok Penjualan …………………………….
Rp  100.250



Perusahaan Manufaktur
Laporan Rugi-Laba sebagian
Periode Tahun 2010
Harga Pokok Penjualan:

Persediaan Barang Jadi 1 Januari ………………….
Rp    12.000
(+) Harga Pokok Produksi (lihat skedul) ……………
688.000
Barang Tersedia Untuk Dijual ……………………….
Rp  700.000
(-) Persediaan Barang Jadi 31 Desember ………….
15.000
Harga Pokok Penjualan
Rp  685.000


Komponen yang berbeda digambarkan secara skematis sbb:
Perusahaan Dagang:























  Persediaan Barang      +     Pembelian       -     Persediaan Barang     =    Harga Pokok
    Dagangan (Awal)                            Bersih                    Dagangan (Akhir)                Penjualan
Perusahaan Manufaktur:
 
  Persediaan Barang      +   Harga Pokok    -     Persediaan Barang      =    Harga Pokok
         Jadi (Awal)                       Produksi                     Jadi (Akhir)                      Penjualan
Pada perusahaan manufaktur diperlukan banyak rekening untuk menentukan harga pokok produksi, tetapi dalam Laporan Rugi-Laba hanya disajikan totalnya saja, sedangkan rinciannya disajikan dalam Skedul Harga Pokok Produksi.
Contoh Skedul Harga Pokok Produksi (merupakan lampiran Laporan Rugi-Laba di atas):
Skedul Harga Pokok Produksi
Tahun 2010
Persediaan Barang Dalam Proses 1 Januari …………………..
Rp   10.000
Ditambah:



Bahan Baku:



     Persediaan 1 Januari ………………..
Rp    5.000


     Ditambah: Pembelian ……………….
100.000


     Tersedia Dipakai …………..………...
      105.000           105


     Dikurangi : Persediaan 31 Desember
9.000


     Bahan Baku Dipakai ………………………………..
Rp 96.000

Biaya Tenaga Kerja Langsung …………………….….
     200.000

Biaya Overhead Pabrik:



     Tenaga Kerja Tidak Langsung ..……
Rp 50.000


     Listrik dan Air …………………………
140.000


     Bahan Habis Pakai Pabrik ………….
30.000


     Penyusutan Gedung Pabrik ………...
120.000


     Penyusutan Mesin …………………...
60.000


     Total Biaya Overhead Pabrik ………………………
400.000

Total Biaya Produksi tahun ini ……………………………………
696.000
Total Biaya Barang Dalam Proses …………………………………
706.000
Dikurangi:



Persediaan Barang Dalam Proses 31 Desember ……………..
18.000
Harga Pokok Produksi ………………………………………………
688.000




HARGA POKOK PRODUKSI
Biaya produksi atau Harga Pokok Produksi (Cost of Goods Manufactured) merupakan kumpulan dari biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh dan mengolah bahan baku sampai menjadi barang jadi.
Biaya-biaya tersebut terdiri dari:
Biaya Bahan Baku (disingkat BBB)
Biaya Tenaga Kerja Langsung ( disingkat BTKL)
Biaya Overhead Pabrik (disingkat BOP)
Biaya Bahan Baku
  Biaya Bahan Baku adalah harga perolehan (harga pokok) seluruh substansi / materi pokok yang terdapat pada barang jadi.
   Bahan baku merupakan bagian Barang jadi yang dapat ditelusur keberadaannya.
   Bahan baku pada sebuah pabrik dapat berasal dari Barang jadi pabrik yang lain.
Biaya Tenaga Kerja Langsung
  Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang memiliki kinerja langsung terhadap proses pengolahan barang, baik menggunakan kemampuan fisiknya maupun dengan bantuan mesin.
  Tenaga kerja langsung memperoleh kontraprestasi yang dikategorikan sebagai Biaya tenaga kerja langsung. Jadi, Biaya Tenaga Kerja Langsung adalah semua kontraprestasi yang diberikan kepada tenaga kerja langsung.
Biaya Overhead Pabrik
  Biaya Overhead Pabrik adalah biaya-biaya yang timbul dalam proses pengolahan, yang tidak dapat digolongkan dalam biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
   Biaya-biaya yang termasuk dalam biaya overhead pabrik, a.l.:
 Biaya tenaga kerja tidak langsung, seperti Upah pengawas, mandor, mekanik, bagian reparasi, dll
Biaya bahan penolong, yaitu macam-macam bahan yang digunakan dalam proses pengolahan, tetapi kuantitasnya sangat kecil dan tidak dapat ditelusur keberadaannya pada barang jadi.
 Biaya penyusutan gedung pabrik, Biaya penyusutan mesin, dll
SIKLUS AKUNTANSI
  Siklus akuntansi perusahaan manufaktur sama dengan siklus akuntansi perusahaan dagang.
   Akuntansi perusahaan manufaktur dengan sistem fisik:
 Rekening Persediaan Bahan Baku hanya digunakan untuk mencatat nilai bahan baku yang masih tersisa, baik di awal maupun akhir periode.
Transaksi pembelian Bahan baku tidak dicatat ke rekening Persediaan Bahan Baku, tetapi dicatat ke rekening Pembelian Bahan Baku, seperti terlihat pada jurnal berikut:
Mei
17
Pembelian Bahan Baku
Kas / Utang Dagang
Rp 100.000
Rp 100.000
ü Rekening Persediaan Barang Dalam Proses hanya digunakan untuk mencatat nilai barang yang masih dalam proses, baik di awal maupun akhir periode.
Rekening Persediaan Barang Jadi hanya digunakan untuk mencatat nilai barang jadi pada awal dan akhir periode.
  Jurnal penyesuaian untuk perusahaan manufaktur sama dengan jurnal penyesuaian untuk perusahaan dagang.
  Neraca Lajur untuk perusahaan manufaktur pada prinsipnya sama dengan neraca lajur untuk perusahaan dagang, tetapi ditambahkan kolom untuk skedul harga pokok produksi.
  Contoh Neraca Lajur Sebagian:
Perusahaan Manufaktur
Neraca Lajur sebagian
Periode tahun 2010
Nama Rekening
NSSD
Harga Pokok Poduksi
Laporan Rugi-Laba
Neraca
Debit
Kredit
Debit
Kredit
Debit
Kredit
Debit
Kredit
Persediaan Barang Jadi
  12.000



12.000
   15.000
15.000

Persed. Barang Dlm. Proses
  10.000

  10.000
  18.000


18.000

Persediaan Bahan Baku
    5.000

    5.000
    9.000


  9.000

Pembelian Bahan Baku
100.000

100.000





Biaya Tenaga Kerja Lgsg.
200.000

200.000





Biaya Tenaga Kerja Tak Lgsg.
  50.000

  50.000





Biaya Listrik dan Air
140.000

140.000





Biaya Bahan Habis Pakai
  30.000

  30.000





Biaya Penyst. Gedung Pabrik
120.000

120.000





Biaya Penyst. Mesin
  60.000

  60.000





Biaya Pemasaran
  40.000



40.000



Penjualan

1.500.000



1.500.000



……….
………..
715.000
  27.000




Harga Pokok Produksi



688.000







715.000
715.000




JURNAL PENUTUP
Jurnal penutup untuk perusahaan manufaktur berbeda dengan perusahaan dagang. Dalam perusahaan manufaktur, rekening Harga Pokok Produksi digunakan untuk menutup semua rekening yang akan dilaporkan di Skedul Harga Pokok Produksi. Saldo rekening ini kemudian ditransfer ke rekening Ikhtisar Rugi-Laba.
Contoh:
Des.
31
Harga Pokok Produksi
     Persediaan Barang Dalam Proses
     Persediaan Bahan Baku
     Pembelian Bahan Baku
     Biaya Tenaga Kerja Langsung
     Biaya Tenaga Kerja Tak Langsung
     Biaya Listrik dan Air
     Biaya Bahan Habis Pakai
     Biaya Penyusutan Gedung Pabrik
     Biaya Penyusutan Mesin
(untuk menutup rekening-rekening Persediaan Bahan Baku awal, Barang Dalam Proses awal, dan rekening-rekening Biaya produksi)
Rp    715.000
Rp     10.000
            5.000
        100.000
        200.000
          50.000
        140.000
          30.000
        120.000
          60.000

31
Persediaan Barang Dalam Proses
Persediaan Bahan Baku
     Harga Pokok Produksi
(untuk mencatat persediaan akhir barang dalam proses dan bahan baku)
Rp     18.000
            9.000
Rp      27.000

31
Persediaan Barang Jadi
Penjualan
     Ikhtisar Rugi-Laba
(untuk mencatat persediaan akhir barang jadi dan menutup rekening penjualan)
Rp      15.000
     1.500.000
Rp 1.515.000

31
Ikhtisar Rugi-Laba
     Persediaan Barang Jadi
     Harga Pokok Produksi
(untuk menutup rekening persediaan awal barang jadi dan harga pokok produksi)
Rp   700.000
Rp      12.000
        688.000

31
Ikhtisar Rugi-Laba
     Biaya Pemasaran
(untuk menutup biaya pemasaran)
Rp     40.000
Rp     40.000
Contoh Soal Dasar Akuntansi Perusahaan Manufaktur
Kasus 1.
Persediaan barang  dalam proses awal Rp. 40.000,Persediaan bahan baku awal Rp. 60.000 sedangkan bahan baku tersedia dipakai sebanyak Rp. 810.000 jumlah pemakaian bahan baku Rp. 785.000, BTKL Rp. 500.000
Biaya TKTL Rp. 220.000, bahan penolong Rp. 50.000, BOP lain2 Rp. 50.000,biaya asuransi mesin Rp. 12.000,biaya sewa gedung pabrik Rp. 160.000 dan biaya depresiasi mesin pabrik Rp, 50.000 sedangkan persediaan barang dalam proses akhir periode Rp. 30.000
Hitunglah besarnya Harga Pokok Produksinya.
Jawab:
Persediaan Barang Dalam Proses Awal                                  Rp.     40.000
Pemakaian Bahan baku:
            Persediaan bahan baku awal                   Rp.   60.000
            Pembelian bahan baku                              Rp. 750.000+
            Bahan baku tersedia dipakai                     Rp. 810.000
Persediaan baham baku akhir                  Rp.   25.000-
Pemakaian bahan baku                                               Rp. 785.000
     Biaya TKL                                                             Rp. 500.000
     BOP
            BTKTL                                                            Rp. 220.000
            Biaya Bahan Penolong                              Rp.   50.000
            BOP lainnya                                                 Rp.   50.000
            Biaya Asuransi Mesin                                 Rp.   12.000
            Biaya  sewa gedung pabrik                       Rp. 160.000
            Biaya penyusutan Mesin pabrik               Rp.   50.000+
                                                                                                Rp  542.000+
         Biaya Produksi                                                                        Rp.1.827.000+
Barang Siap Digunakan                                                                Rp.1.867.000
Persediaan Barang Dalam Proses Akhir                                               Rp.     30.000-
Harga Pokok Produksi                                                                Rp.1.837.000
                                                                                                           ==========
Kasus 2.
PT BSI memiliki Persediaan bahan baku  awal tahun atau  1 Januari 2010 Rp. 1.000.000,Pembelian bahan baku selama tahun 2010 Rp. 10.000.000  sedangkan persediaan akhir bahan baku per 31 desember 2010 Rp. 500.000
Pertanyaan:
a.   Hitunglah pemakaian bahan baku selama  tahun 2010
b.   Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi yang berhubungan dengan bahan baku.
Jawab:
a.   Biaya pemakaian bahan baku
Persediaan bahan baku 1 Januari 2010                         Rp.   1.000.000
Pembelian selama 2010                                                    Rp. 10.000.000+
Bahan baku siap untuk dipakai                                        Rp. 11.000.000
Persediaan bahan baku per 31 desember 2010                       Rp.      500.000-
Biaya Pemakaian bahan baku tahun 2010                    Rp. 10.500.000
b.   Jurnal pembelian bahan baku
Pembelian                                        Rp. 10.000.000
            Kas/utang                                                                  Rp. 10.000.000
Jurnal pemindahan pembelian bahan baku ke persediaan bahan baku pada akhir periode (AJP)
Persediaan bahan baku                 Rp. 10.000.000
            Pembelian                                                                Rp. 10.000.000
Jurnal pemakaian bahan baku (AJP)
Persediaan barang DP                   Rp. 10.500.000
            Persediaan bahan baku                             Rp. 10.500.000
Kasus 3.
PT. BSI mengeluarkan biaya TKL selama 2010 sebesar Rp. 5.000.000
Buatlah jurnal pencatatan yang berhubungan dengan BTKL
     Jawab:
     Pada saat membayar BTKL
     Biaya gaji/upah                           Rp. 5.000.000
                        Kas                                                                             Rp. 5.000.000
     Pada saat akhir periode melalui AJP dipindahkan persediaan BDP
     Persediaan BDP                         Rp. 5.000.000
                        Biaya gaji/upah                                                        Rp. 5.000.000
Kasus 4.
PT.BSI membayar perskot asuransi mesin pabrik Rp. 40.000 untuk masa 2 tahun,BTKTL Rp. 500.000 yang belum dibayar per 31 desember 2010 Rp. 50.000,Biaya bahan penolong Rp. 100.000, biaya sewa gedung Rp. 400.000 80% dibebankan pabrik yang 20% dibebankan biaya kantor, BOP lainnya Rp. 25.000, Biaya penyusutan mesin pabrik  10% dari harga perolehan Rp. 1.000.000
Buatlah pencatatan yang dilakukan PT BSI berhubungan dengan BOP
Jawab:
Pada Saat pembayaran
a.   Porskot asuransi                              Rp.40.000
Kas                                                                             Rp. 40.000
b.   BTKTL                                                Rp.500.000
Kas                                                                             Rp. 500.000
    
c.   Biaya sewa gedung                                    Rp. 400.000
Kas                                                                             Rp. 400.000
d.   BOP lain2                                         Rp. 25.000
Kas                                                                             Rp. 25.000
e.   Jurnal AJP pembebanan kemasing2 jenis biaya
1.   Asuransi ½ x Rp. 40.000 = Rp. 20.000
Biaya Asuransi mesin pabrik                                            Rp. 20.000
            Porskot asuransi mesin pabrik                                          Rp. 20.000
       
2.   Biaya TK yang belum dibayar  Rp. 50.000
BTKTL                                                                                    Rp. 50.000
            Hutang BTKTL                                                                     Rp. 50.000
3.   Pembebanan Biaya BP Rp. 100.000
Biaya BP                                                                               Rp. 100.000
            Persediaan BP                                                                     Rp. 100.000
4.   Biaya sewa gedung pabrik 80% x Rp. 400.000 =          Rp. 320.000
Biaya sewa gedung kantor                                                            Rp.   80.000
Biaya sewa gedung pabrik                                                            Rp. 320.000
            Biaya sewa gedung                                                                        Rp. 400.000
5.   Biaya penyusutan mesin 10% x Rp. 1.000.000 =         Rp. 100.000
Biaya penyusutan mesin pabrik                                       Rp. 100.000
            Akumulasi penyusutan mesin pabrik                              Rp. 100.000
6.   BOP                                                                                       Rp. 1.115.000          
Biaya BP                                                                                           Rp.  100.000
BTKTL                                                                                                Rp.  550.000
Biaya asuransi mesin pabrik                                                         Rp.    20.000
BOP lain-lain                                                                                                Rp.    25.000
Biaya penyusutan mesin pabrik                                                   Rp.  100.000
Biaya sewa gedung pabrik                                                                        Rp.  320.000
7.   Persediaan barang dalam proses                                                Rp. 1.115.000
BOP                                                                                                    Rp. 1.115.000
Kasus 5.
Dari data kasus diatas jika persediaan awal barang  dalam proses Rp. 80.000  dan persediaan akhir barang  dalam proses Rp. 60.000  hitunglah Harga Pokok Produksinya
Jawab
Persediaan awal barang dalam proses                           Rp.       80.000
Biaya barang dalam proses                                               Rp 16.615.000 +
                                                                                                                        Rp.16.695.000
Persediaan akhir barang dalam proses                          Rp.       60.000 -        
Harga Pokok Produksi                                                                                Rp.16.635.000             
                                                                                                                        ============
Kasus 6.
Pada data PT. BSI diatas jika ditambahkan jumlah  persediaan awal barang jadi per 1 januari 2010  Rp. 200.000 dan persediaan akhir 31 Desember 2010  untuk barang jadi Rp. 100.000.
Hitunglah Harga Pokok Penjualannya
Jawab:
Persediaan awal barang jadi 1 januari 2010                                         Rp.       20.000
Harga Pokok Produksi                                                                                Rp.16.635.000+
                                                                                                                        Rp.16.655.000
Persediaan akhir barang jadi 31 desember 2010                                  Rp.    100.000 -        
Harga Pokok Penjualan                                                                           Rp.16.555.000             
                                                                                                                        ===========
SOAL KASUS UNTU NERACA LAJUR PERUSAHAAN MANUFAKTUR
Data Keuangan untuk Neraca Saldo per 31 desember 2010 PT. BSI adalah sebaga berkut:
Kas                                                                             Rp.    100.000
Persediaan bahan baku                                         Rp.    120.000
Persediaan barang dalam proses                                    Rp.      80.000
Persediaan barag jadi                                             Rp.    200.000
Porskot asuransi                                                      Rp.      48.000
Mesin pabrik                                                             Rp. 1.000.000
Perabot kantor                                                          Rp.    200.000
Pembelian bahan baku                                          Rp. 1.500.000
Biaya BTKL                                                               Rp. 1.000.000
BTKTL                                                                        Rp.    400.000
Pemakaian Bahan penolong                                Rp.    100.000
Biaya sewa gedung                                                            Rp.    400.000
BOP lain2                                                                  Rp.    100.000
Biaya administrasi kantor                                       Rp.    200.000
Akumulasi penyusutan mesin pabrik                                          Rp.        100.000
Akumulasi penyusutan perabot kantor                                       Rp.          40.000
Modal saham                                                                                    Rp.     1.000.000
Laba ditahan                                                                                                Rp.        308.000
Penjualan                                                                                         Rp.      4.000.000
    Jumlah                                                      Rp. 5.448.000           Rp.     5.448.000
                                                                 ===========      =============
Data Untuk AJP adalah sebagai berikut:
1.   Porskot asuransi untuk mesin pabrik selama dua tahun . asuransi sampai dengan 31 desember 2011 dan dibayar per 1 januari 2010
2.   Biaya tenaga kerja tidak langsung yang belum dibayarkan sebanyak Rp. 40.000
3.   Sewa gedung untuk beban pabrik sebanyak 80% dan beban kantor 20%
4.   Mesin pabrik disusutkan 10% pertahun dan perabot  5% .masing2 harga perlehan dianggap tidak memiliki nilai residu
5.   Persediaan bahan baku 31desember  2010 senilai Rp. 50.000,persediaan barang dalam proses Rp. 60.000 dan persediaan barang jadi Rp. 100.000
Dari data diatas buatlah Work Sheet atau neraca lajur, harga pokok produksi,harga pokok penjualan,rugi laba ,neraca dan laporan laba ditahan  per 31 Desember 2010.
Jawab:
Ayat Jurnal Penyesuaian:
1.   Biaya Asuransi mesin pabrik                                Rp. 24.000
            Porskot/uangmuka asuransi                                             Rp. 24.000
2.   Biaya TKTL                                                   Rp. 40.000
Hutang BTKTL                                                                     Rp. 40.000
3.   Biaya sewa gedung pabrik                                    Rp. 320.000
Biaya sewa gedung kantor                                    Rp.   80.000
            Biaya sewa gedng                                                   Rp. 400.000
4.   Biaya penyusutan mesin pabrik               Rp. 100.000
Ak.Penyusutan mesin pabrik                                Rp. 100.000
5.   Biaya penyusutan perabot kantor                        Rp. 10.000
Ak. Penyusutan perabot kantor                            Rp. 10.000
6.   Persediaan  bahan baku                           Rp. 1.500.000
Pembelian bahan baku                                        Rp.1.500.000
7.   Biaya Overhead Pabrik                                          Rp. 1.084.000
BTKTL                                                                        Rp. 440.000
Biaya Bahan penolong                                          Rp. 100.000
BOP lain2                                                                  Rp. 100.000
Biaya Asuransi mesin pabrik                                Rp.   24.000
Biaya sewa gedung                                                            Rp. 320.000
Biaya Penyusutan Mesin Pabrik                          Rp. 100.000
8.   Persediaan barang dalam proses                        Rp. 1.570.000
Persediaan bahan baku                                         Rp. 1.570.000
9.   Persediaan Barang Dalam Proses                      Rp. 1.000.000
BTKL                                                                          Rp. 1.000.000
10. Persediaan Barang Dalam Proses                      Rp. 1.084.000
BOP                                                                            Rp. 1.084.000
11. Persediaan Barang Jadi                                        Rp. 3.674.000
Persediaan Barang Dalam Proses                       Rp. 3.674.000
12. HPP                                                                           Rp. 3.774.000
Persediaan Barang Jadi                                         Rp. 3.774.000
PT.BSI
Neraca Lajur ( Work Sheet )
Periode tahun 2010
Nama Rekening
NERACA SALDO
AJP
NSSD
RUGI LABA
Debit
Kredit
Debit
Kredit
Debit
Kredit
Debit
Kredit
Kas
  100000



100000



Persd Bahan Baku
  120000

1500000(6)
1570000 (8)
50000



Persd Barang Dalam Proses
80000

1570000(8)
1000000(9)
1084000(10)
3674000(11)
60000



Persediaan Barang Jadi
200000

3674000(11)
3774000(12)
100000



Porskot Asuransi.
48000


24000(1)
24000



Mesin Pabrik
1000000



1000000



Ak. Peny Mesin Pabrik

100000

100000(4)

200000


Perabot Kantor
200000



200000



Ak Peny. Perabot Kantor

40000

10000(5)

50000


Modal Saham

1000000



1000000


Laba Ditahan

308000



308000


Penjualan

4000000



4000000

4000000
Pembelian Bahan Baku
1500000


1500000(6)




BTKL
1000000


1000000(9)




BTKTL
400000


440000(7)




Biaya Bahan Penolong
100000


100000(7)




Biaya Sewa Gedung
400000


400000(3)




BOP lain2
100000


100000(7)




Biaya adm kantor
200000



200000

200000

Total
5448000
5448000






Biaya Asuransi mesin pabrik


24000(1)
24000(7)




TKTL Terhutang



40000(2)

40000


Biaya Sewa Gedung pabrik


320000(3)
320000(7)




Biaya sewa gedung kantor


80000(3)

80000

80000

Biaya Peny mesin Pabrik


100000(4)
100000(7)




Biaya Peny Perabot kantor


10000(5)

10000

10000

BOP


1084000(7)
1084000(10)




HPP


3774000(12)

3774000

3774000




14.260000
14260000
5598000
5598000
4064000
4000000








64000







4064000
4064000
Nama Rekening
RUGI LABA
NERACA
Debit
Kredit
Debit
Kredit
Kas


100000

Persd Bahan Baku


50000

Persd Barang Dalam Proses


60000

Persediaan Barang Jadi


100000

Porskot Asuransi.


24000

Mesin Pabrik


1000000

Ak. Peny Mesin Pabrik



200000
Perabot Kantor


200000

Ak Peny. Perabot Kantor



50000
Modal Saham



1000000
Laba Ditahan



308000
Penjualan

40000000


Pembelian Bahan Baku




BTKL




BTKTL




Biaya Bahan Penolong




Biaya Sewa Gedung




BOP lain2




Biaya adm kantor
200.000



Total




Biaya Asuransi mesin pabrik




TKTL Terhutang



40000
Biaya Sewa Gedung pabrik




Biaya sewa gedung kantor
80.000



Biaya Peny mesin Pabrik




Biaya Peny Perabot kantor
10.000



BOP




HPP
3.774.000




4.064.000
4.000.000
1.534.000
1.598.000


64.000
    64.000


4.064.000
4.064.000
1.598.000
1.598.000















PT. BSI
Laporan  Harga  Pokok Produksi
Periode  31 Desember  2010
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Persediaan Barang Dalam Proses Awal                                                 Rp.     80.000
Pemakaian Bahan baku:
            Persediaan bahan baku awal       Rp   . 120.000
            Pembelian bahan baku                  Rp. 1.500.000+
            Bahan baku tersedia dipakai                     Rp. 1.620.000
Persediaan bahan baku akhir                         Rp.      50.000-
Pemakaian bahan baku                                                           Rp. 1,570.000
     Biaya TKL                                                                         Rp. 1.000.000
     BOP:
            BTKTL                                                                        Rp. 440.000
            Biaya Bahan Penolong                                          Rp. 100.000
            BOP lainnya                                                             Rp. 100.000
            Biaya Asuransi Mesin                                             Rp.   24.000
            Biaya  sewa gedung pabrik                                   Rp. 320.000
            Biaya penyusutan Mesin pabrik                           Rp. 100.000+
                                                                                                            Rp  1.084.000+
         Biaya Produksi                                                                                    Rp. 3.734.000
   Persediaan barang dalam proses akhir                                               Rp.      60.000-
   Harga Pokok Produksi                                                                          Rp. 3.674.000
                                                           
           
PT.BSI
Laporan Perhitungan Rugi Laba
Periode 31 Desember 2010
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Penjualan                                                                                                     Rp. 4.000.000
Harga Pokok Penjualan:
Persediaan Barang jadi awal                              Rp.    200.000
Harga Pokok Produksi                                         Rp. 3.674.000+
                                                                                    Rp. 3.874.000
Persediaan Barang jadi akhir                             Rp.    100.000-
Harga Pokok Penjualan                                                                           Rp. 3.774.000-
Laba Kotor                                                                                                   Rp.    226.000
Biaya Operasional:
Biaya Administrasi Kantor                                   Rp.    200.000
Biaya Sewa Gedung Kantor                                Rp.      80.000
Biaya Penyusutan Perabot kantor                    Rp.      10.000+
                                                                                                                        Rp.    290.000-
Rugi Operasional                                                                                       Rp.      64.000
                                                                                                            ===========
PT.BSI
Neraca
Per 31 Desember 2010
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Aktva Lancar:
Kas                                                                                         Rp. 100.000
Persediaan:
Persediaan Bahan Baku              Rp.   50.000
Persediaan BDP                             Rp.   60.000
Persediaan Barang Jadi               Rp. 100.000+
                                                                                                Rp. 210.000
Porsekot asurasi                                                                Rp.   24.000+
Jumlah Aktiva Lancar                                                                               Rp. 334.000
Aktiva Tetap:
Mesin Pabrik                                    Rp. 1.000.000
Ak. Peny Mesin pabrik                  Rp.    200.000-
                                                                                                            Rp. 800.000
Perabot Kantor                               Rp.    200.000
Ak. Peny Perabot kantor              Rp.      50.000-
                                                                                                            Rp. 150.000+
Jumlah aktiva Tetap                                                                                  Rp950.000+
Jumlah Akiva                                                                                              Rp1.284.000
                                                                                                        ==========
Hutang lancar:
Hutang Biaya TKTL                                                                                  Rp.  40.000
Modal:
Modal Saham                                  Rp. 1.000.000
Laba Ditahan                                   Rp.    244.000+
Jumlah  Modal                                                                                            Rp. 1.244.000+
Jumlah Pasiva                                                                                           Rp. 1.284.000
                                                                                                            ============
PT.BSI
Laporan Laba Ditahan
Per 31 Desember 2010
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Laba Ditahan 1 Januari 2010                                                      Rp.         308.000
Rugi Tahun Berjalan                                                                     Rp.           64.000-
Laba Ditahan 31 Desember 2010                                               Rp.         244.000
                                                                                           ==============
PT.Nisa Mandiri  perusahaan yang bergerak  dibidang keramik pada tanggal   31  Desember  2010  memiliki   data   Neraca  Saldo sebagai berikut:
PT.Nisa Mandiri
Neraca Saldo
31 Desember 2010
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kas                                                                 Rp.      50.000
Persediaan bahan baku                             Rp.      60.000
Persediaan barang dalam proses                        Rp.      40.000
Persediaan barag jadi                                 Rp.    100.000
Porskot asuransi                                          Rp.      24.000
Mesin pabrik                                                 Rp.    500.000
Perabot kantor                                              Rp.    100.000
Pembelian bahan baku                              Rp.    750.000
Biaya BTKL                                                   Rp.    500.000
BTKTL                                                            Rp.    200.000
Pemakaian Bahan penolong                    Rp.      50.000
Biaya sewa gedung                                                Rp.    200.000
BOP lain2                                                      Rp.      50.000
Biaya administrasi kantor                           Rp.    100.000
Akumulasi penyusutan mesin pabrik                                          Rp.        50.000
Akumulasi penyusutan perabot kantor                                       Rp.        20.000
Modal saham                                                                                    Rp.      500.000
Laba ditahan                                                                                                Rp.      154.000
Penjualan                                                                             __        Rp.   2.000.000+
    Jumlah                                                      Rp. 2.724.000           Rp.    2.724.000
                                                                 ===========      ============
Data Untuk AJP adalah sebagai berikut:
1.   Porskot asuransi untuk mesin pabrik selama dua tahun . asuransi
sampai dengan 31 desember 2011 dan dibayar per 1 januari 2010
2.   BTKTL yang belum dibayarkan sebanyak Rp. 30.000
3.   Sewa gedung untuk beban pabrik sebanyak 70% dan beban kantor
 30%
4.   Mesin pabrik disusutkan 15% pertahun dan perabot  10 % .masing2
     harga perlehan dianggap tidak memiliki nilai residu
5.   Persediaan bahan baku per  31desember  2010 senilai    Rp30.000,
persediaan barang dalam proses Rp. 40.000 dan persediaan barang jadi Rp. 75.000
Dari data diatas buatlah Work Sheet atau neraca lajur, harga pokok produksi,harga pokok penjualan, rugi laba, neraca dan laporan laba ditahan  per 31 Desember 2010.

Credit : Tentangku...